Sejarah Kota Makkah: Dari Masa Jahiliyah hingga Pusat Peradaban Islam

Bagi jamaah yang hendak menunaikan ibadah umrah, mengenal sejarah Kota Makkah akan membuat perjalanan spiritual terasa lebih bermakna. Kota suci ini bukan sekadar tujuan ibadah, tetapi juga saksi panjang perjalanan peradaban manusia, mulai dari masa jahiliyah hingga menjadi pusat peradaban Islam yang dihormati di seluruh dunia. Melalui artikel ini, IMTIYAZ Umrah Ramah Lansia ingin mengajak Bapak/Ibu jamaah untuk sedikit menyelami kisah di balik tanah haram yang akan segera dikunjungi, agar setiap langkah di sana terasa lebih dekat dengan makna sejarahnya.

Makkah pada Masa Jahiliyah

Sebelum kedatangan Islam, Makkah dikenal sebagai kota penting di jalur perdagangan Jazirah Arab. Letaknya yang strategis menjadikan Makkah sebagai persinggahan para pedagang dari berbagai penjuru, mulai dari Yaman hingga Syam. Ka’bah pada masa itu telah berdiri sebagai bangunan suci, namun sayangnya dipenuhi berhala yang disembah oleh penduduk sekitar, sebuah kondisi yang kemudian dikenal sebagai zaman jahiliyah.
Meski demikian, masyarakat Arab kala itu tetap memuliakan Ka’bah sebagai tempat suci peninggalan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tradisi ziarah dan penghormatan terhadap Baitullah ini menjadi salah satu benang merah yang kelak diteruskan dan dimurnikan maknanya setelah datangnya risalah Islam melalui Nabi Muhammad SAW.

Titik Balik Setelah Kelahiran Islam

Kelahiran Nabi Muhammad SAW di Makkah menjadi awal babak baru bagi kota ini. Setelah menerima wahyu dan berdakwah, perjalanan dakwah beliau sempat diwarnai tantangan besar hingga terjadi peristiwa hijrah ke Madinah. Namun, delapan tahun kemudian, Fathu Makkah atau pembebasan Kota Makkah menjadi momentum penting yang mengubah wajah kota ini sepenuhnya.
Ka’bah yang sebelumnya dipenuhi berhala dibersihkan, dan tauhid kembali ditegakkan sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim. Sejak saat itu, Makkah tidak lagi menjadi kota jahiliyah, melainkan bertransformasi menjadi pusat ibadah dan arah kiblat umat Islam sedunia, sebuah kedudukan yang terus melekat hingga hari ini.

Makkah sebagai Pusat Peradaban Islam

Seiring berjalannya waktu, Makkah tumbuh menjadi pusat keilmuan dan peradaban Islam. Masjidil Haram yang mengelilingi Ka’bah terus diperluas dari masa ke masa untuk menampung jutaan jamaah yang datang setiap tahunnya, baik untuk ibadah haji maupun umrah. Berbagai kekhalifahan turut memberikan kontribusi dalam pemeliharaan dan pengembangan kota suci ini.
Perluasan Masjidil Haram pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA pada tahun 17 Hijriah (638 M). Beliau membeli rumah-rumah penduduk di sekitar Ka’bah dan membangun tembok setinggi hampir dua meter mengelilingi Ka’bah, sehingga area tawaf menjadi lebih luas. Langkah serupa kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Utsman bin Affan RA yang membangun struktur permanen di sekitar Ka’bah pada tahun 26 Hijriah.
Pada masa Dinasti Umayyah, pembangunan besar-besaran dilakukan oleh Abdul Malik bin Marwan dan dilanjutkan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik. Masjidil Haram kemudian memiliki atap, tiang-tiang marmer, dinding berhias mozaik, serta pintu berlapis emas dan tembaga. Dinasti Abbasiyah juga tidak ketinggalan; Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur memperluas masjid hingga dua kali lipat dan melengkapinya dengan menara, sementara Khalifah Muhammad Al-Mahdi menambahkan perluasan signifikan pada tahun 783 M.
Perluasan terus berlanjut hingga era modern. Pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz, luas Masjidil Haram mencapai 366.188 meter persegi dengan kapasitas sekitar dua juta jamaah pada waktu-waktu puncak. Perluasan terbesar dalam sejarah Masjidil Haram saat ini sedang berlangsung di era Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, yang mencakup area hampir 1,5 juta meter persegi dan mampu menampung hingga 1,25 juta jamaah secara bersamaan untuk salat, serta memungkinkan 108.000 jamaah per jam untuk tawaf.

Makkah sebagai Jantung Peradaban Islam

Makkah bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat keilmuan dan peradaban Islam. Sejak masa Khulafaur Rasyidin, para khalifah, sultan, dan penguasa Muslim berlomba-lomba memberikan perhatian terbaik bagi kota suci ini, baik melalui perluasan Masjidil Haram, pemeliharaan Ka’bah, pengelolaan sumur Zamzam, maupun pembangunan infrastruktur bagi para jamaah.
Pada masa modern, Makkah telah bertransformasi menjadi kota global yang tidak hanya melayani jutaan jamaah haji dan umrah setiap tahunnya, tetapi juga menjadi pusat pertemuan dan dialog dunia Islam. Kota ini kini menjadi tujuan investasi dan pembangunan yang dinamis, dengan berbagai inisiatif yang bertujuan memperkuat posisinya sebagai destinasi Islam global.
Dengan luas Masjidil Haram yang kini mencapai lebih dari 1,8 juta meter persegi dan kapasitas mencapai 2,5 juta jamaah dalam satu waktu, Makkah terus membuktikan dirinya sebagai jantung spiritual umat Islam sedunia. Setiap langkah di tanah haram ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang menghubungkan jamaah dengan sejarah panjang peradaban Islam yang telah berlangsung lebih dari empat belas abad.

Penutup

Mengenal sejarah Kota Makkah bukanlah sekadar menambah wawasan, melainkan memperdalam makna setiap ibadah yang ditunaikan. Dari masa jahiliyah yang penuh kegelapan, melalui Fathu Makkah yang membawa cahaya tauhid, hingga menjadi pusat peradaban Islam yang megah, Makkah adalah saksi bisu perjalanan panjang umat manusia menuju pengenalan akan Tuhan Yang Maha Esa. Semoga dengan memahami sejarahnya, setiap jamaah dapat menunaikan ibadah umrah dengan hati yang lebih khusyuk dan langkah yang lebih bermakna.
Referensi:
Chamidah, N. (2024). Kondisi alam dan sosial budaya Jazirah Arab sebelum Kedatangan Islam. Maliki Interdisciplinary Journal, 2(5), 704–715.
Fathu Makkah, Perdamaian Besar di Bulan Ramadan. (2023). Majelis Ulama Indonesia.
Fathu Makkah, Peristiwa Kemenangan Islam di Bulan Ramadan. (2026). RRI.co.id.
Jejak Sejarah Perluasan Masjidil Haram dari Masa ke Masa. (2026). Kompas.com.
Kota Makkah: Dari Lembah Gersang Menjadi Jantung Dunia Islam. (2025). Umrah Bersamamu.
Perluasan Masjidil Haram dari Masa Umar bin Khattab hingga Raja Salman. (2025). Detik.com.
Siapakah Inisiator Perluasan Masjidil Haram Usai Era Rasul? (2020). Republika Online.
Tahukah Anda? Luas Masjidil Haram Kini 750 Kali Lipat dari Era Rasulullah. (2025). AMPHURI.org.
موسوعة المملكة العربية السعودية (Ensiklopedia Kerajaan Arab Saudi).
فمن خلال هذا البحث لوحظ التباين الكبير بين العمارات والتوسعات السابقة للعهد السعودي (Studi tentang Perluasan Masjidil Haram).

Rekomendasi Layanan & Artikel Umrah Lansia

Ingin merencanakan perjalanan ibadah yang aman, nyaman, dan didampingi secara profesional khusus orang tua tercinta? Pelajari selengkapnya melalui IMTIYAZ Tour – Travel Umrah Ramah Lansia Jogja atau konsultasikan kebutuhan manasik Anda langsung dengan tim ahli kami.